Cerutu, Gaya Hidup Metropolis

Di salah satu ruangan di gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), tercium keras aroma dedaunan. Baunya menusuk hidung. Bagi yang tak terbiasa, mungkin akan bertanya-tanya bau apa itu. Bagi para penghisap rokok, mungkin aroma itu sudah tidak aneh lagi.

Aroma itu berasal dari kepulan asap cerutu. Ruangan berpendingin itu biasa dijadikan tempat kumpul kalangan profesional dan pengusaha muda mapan untuk menikmati cerutu dari negeri Fidel Castro, Kuba. Komunitas penggemar ini menyebutkan dirinya Cigars.

Cerutu memang memiliki keistimewaan sendiri. Tidak seperti menghisap rokok pada umumnya. Tak nikmat rasanya jika menghisap cerutu dengan terburu-buru. Menghisap secara santai dengan hembusan pelan-pelan, itu kunci kenikmatannya. Makanya, para Cigars harus punya waktu cukup untuk menghabiskan satu batangnya.

“Kenikmatannya ada di asap dan aroma daun tembakaunya. Kalau yang belum biasa, pasti dianggapnya aneh, bahkan mudah pusing,” ujar Gunawan Ternadi, General Manager Churchill Cigars House.

Di tempatnya itu, ia menyediakan berbagai sarana bagi penggemar cerutu. Ia menjual cerutu berbagai merek, cutter, sampai pemantiknya. Ia juga memberikan sarana penitipan cerutu milik penggemarnya yang biasa bersantai di sini. Cerutu dan tempat penitipannya dilengkapi penyejuk ruangan untuk menjaga kualitas cerutu.

“Sarana penitipannya gratis. Kita juga menyediakan berbagai merek minuman pelengkapnya,” ujarnya.

Penggemar cerutu di Indonesia, menurut dia, masih relatif sedikit, namun sudah menjadi gaya hidup kota-kota besar. Hanya kalangan mapan yang biasa menjadikan cerutu sebagai hobinya. Tidak hanya sebatas untuk dihisap, ada juga yang menjadikannya benda koleksi.

Kalau ingin membandingkan harga cerutu dengan rokok, sudah pasti perbandingannya bisa berlipat-lipat. Harga per batang cerutu yang paling murah Rp20 ribu dengan kualitas rendahan. Untuk yang kelas premium, harga murahnya Rp60 ribu dan harga mahalnya bisa mencapai puluhan juta per batangnya.

Mereknya bermacam-macam. Yang harganya cukup mahal, bermerek Cohiba. Untuk jenis ini, harga satu kotaknya berisi 12 batang adalah Rp20 juta. Cerutu tidak hanya buatan Kuba, ada juga yang pabrikan Dominika dan Honduras. Adapun merek cerutu antara lain Montecristo, Hupmann, Dimomaticos, Fonseca, Juan Lopez, Jose Gener, dan Davidoff.

“Cerutu Dominika dengan kualitas rendahan, dari pembungkusnya saja sudah berbeda. Buatan Cuba, tembakaunya berwarna coklat pekat. Sedangkan Dominika pembungkusnya berwarna coklat pucat,” ujar Gunawan.

Tidak hanya harga cerutunya yang mahal, kotak khusus penyimpannya saja sudah pasti menguras kantong. Harganya bervariasi antara Rp6 juta sampai Rp20 jutaan. Maklum, kotak ini memang didesain agar kualitas cerutu dapat tahan lama.

Menghisap cerutu, ternyata punya cara berbeda dengan menghisap rokok. Hisap cerutu, “dikumur-kumur”, dan pelan-pelan dihembuskan. Asapnya akan keluar juga melalui hidung. “Nah…di situ kenikmatannya. Berbeda dengan rokok yang dihisap langsung dibuang,” ujar Sebastian, pengusaha muda bidang keuangan.

Pemula biasanya belum mengerti caranya, karena dianggap menghisap cerutu sama dengan rokok biasa. Jika itu dilakukan, kata dia, yang terjadi adalah kepala mudah pusing dan akhirnya ingin tertidur. Sementara, cerutu masih panjang dan sayang jika harus dibuang. “Upayakan cerutu saat dihisap, harus habis. Rasanya jelas sudah beda,” ujarnya.

Oleh penggemarnya, cerutu diibaratkan barang mewah yang harus dimanjakan. Harus disimpan di tempat yang sejuk dan harus tetap pada kotaknya serta diatur kelembapanya. Bila tidak, maka kualitas cerutu akan menurun, bahkan rentan rusak.

“Kalau tidak mampu menjaga kualitasnya, lebih baik tidak usah menghisap cerutu. Bisa-bisa menghabiskan uang. Sebenarnya sih, tidak terlalu mahal kalau kita mengerti caranya,” ujarnya.

Ia sudah lima tahun menjadi penggemar cerutu. Menurutnya, rokok mengandung saus yang dapat membuat orang menjadi kecanduan. Dampaknya, merusak kesehatan, apalagi bila dihisap sampai ke paru-paru. Sedangkan cerutu terbuat dari tanaman tembakau dan hanya dikulum di mulut.

Cerutu, kata dia, tidak harus dihisap setiap saat. Biasanya pada jam-jam tertentu saja. Saat istirahat kerja, dalam perjalanan pulang, dan santai di rumah. Paling banyak ia hanya menyigar tiga batang sehari. Minuman pelengkap, biasanya dengan soda atau air putih saja.

“Ada juga sih yang dilengkapi minuman keras. Pernah saya coba, kayaknya lebih nikmat dengan air putih. Tergantung orangnya saja,” ujar dia.

Saat baru belajar menghisap cerutu, ia diajari oleh teman seprofesinya. “Rasanya lumayan pusing,” kata dia. Lama-lama, akhirnya menjadi kebiasaan. Ia biasanya punya peluang menikmati cerutu pada saat lelah bekerja dan punya waktu paling lama satu jam untuk santai. Kini, cerutu menjadi gaya hidupnya.

http://roesman.blogspot.com

Category:  
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response.
0 Responses